Blog

PPMI DK Banjarmasin Goes to LPM Persitiwa FH ULM

IMG20181003200829

Jejaring Sosial atau jaringan social adalah suatu upaya melakukan kerjasama yang ada dalam modal social dalam rangka membentuk organisasi di mana para anggotanya secara sukarela menyerahkan sebagian hak-hak individunya untuk bekerja bersama-sama mencapai suatu tujuan, berdasarkan aturan-aturan yang disepakati. Kesepakatan yang terjadi tersebut menyebabkan setiap orang atau individu melaksanakan kewajibannya masing-masing secara bebas tanpa perlu diawasi, karena satu sama lain menaruh kepercayaan bahwa setiap orang akan melaksanakan kewajibannya.- Fukuyama (1995).

Dalam Wikipedia, pengetian jejaring social adalah struktur sosial yang berawal dari berbagai simpul perbedaan, kemudian dilakukan pengenalan dan kerjasama dengan struktur yang lain, hingga akhirnya memiliki kesamaan nilai, ide, visi, misi, teman, keluarga, keturunan, dan lain sebaginya.

Barangkali esensi Perhimpunan Pers Mahasiswa (PPMI) Dewan Kota (DK) Banjarmasin yang kini mulai bangkit kembali dengan kepengurusan barunya yang dipegang oleh Sekretaris Jenderal (Sekjend) Muhammad Luthfi dari LPM Warta jitu adalah stamina baru dalam dunia berjejaring atau sebagai wadah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) untuk saling menguatkan bagi insan Pers Mahasiswa (Persma) yang hendak bersilahturahmi, berbagi (pemikiran/waktu/ilmu) dan mengawal isu bersama sebagai corong utama dalam ideologi persma tersebut.

Jadi kata kunci PPMI adalah berjejaring dan menguatkan antar LPM. Visi/Misi tidak terlepas dari subtansi tersebut.

Kemudian para Badan Pekerja (BP) bersepakat bahwa dalam agenda PPMI DK Banjarmasin: Goes to LPM, dalam waktu dekat sebelum diadakannya Musyawarah Kerja Kota (Muskerkot). Maka atas kesepakatan itu, kami BP Jaringan Kerja (Jaker) telah memulai serangkain kegiatan pertamanya yaitu Goes to LPM Peristiwa. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 10 Oktober 2018 – Pukul 20.00 WITA.

Gambaran kasar kondisi LPM Peristiwa FH ULM

Status keaktifan keorganisasian (Sangat Aktif) berdirinya pada tahun 2009 dan resmi menjadi lembaga pada tahun 2011 (10 Angkatan) dengan jumlah anggota aktif sekitar 80 orang, sekarang sedang masa orientasi calon anggota baru yang berjumlah 150 (Workshop). Terkait produktifitas hasil karya, Peristiwa menerbitkan Buletin tiap 2 bulan sekali dan Majalah, 2 edisi terbaru tiap tahunnya. (Data itu tercatat pada tahun 2018.)

Rencana Masa Depan PPMI DK Banjarmasin

Dan sebelum pelaksanaan Muskerkot, kami hendaknya telah mengantongi beberapa data LPM yang ada di kota Banjarmasin. Selain itu, kami juga tetap mencoba menjaring kebeberapa LPM yang disebut Karteker yaitu Palangkaraya, Samarinda, Balikpapan serta kabupaten-kabupaten di sekitarnya.

Ada 15 LPM (Baca: Kota Banjarmasin) yang terdata sebagai berikut LPM Warta JITU, LPM Sukma, LPM Analisa, LPM Kinday, LPM Handayani, LPM Hippocampus, LPM Intr-o, LPM From Zero To Hero, LPM Lentera, LPM JurnalKampus, LPM Lensa, LPM Panda, LPM Jelaga, LPM Peristiwa dan LPM Opini.

Dan dalam wawancara langsung oleh BP Jaker Nasional Kiky kepada Sekjend PPMI DK Banjarmasin sekaligus Pimpinan Umum LPM Warta JITU, Muhammad Luthfi menjelaskan kegiatan ini sudah disepakati sebelumnya oleh seluruh anggota PPMI DK Banjarmasin dan rencananya akan diusung menjadi program kerja Badan Pekerja (BP) Jaringan Kerja (Jaker) PPMI DK Banjarmasin, salah satu divisi yang ada di PPMI DK Banjarmasin. “Agenda kunjungan ini ada 3, perkenalan PPMI, identifikasi keadaan LPM dan mengundang pada acara Muskerkot PPMI DK Banjarmasin,” jelasnya ketika ditanya tujuan kunjungan kali ini. Mukerkot sendiri direncanakan akan dilaksanakan di akhir bulan Oktober nanti dan terbuka untuk Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Banjarmasin, anggota PPMI DK Banjarmasin atau pun tidak. Inilah, awal dari berjejaring dan menjadi nilai awal menuju persma yang tajam dengan media alternatifnya. Salam Persma!

 

Ttd

BP Jaringan Kerja

Aksi Demonstrasi dalam Bingkai Media Massa

DiskusiDALAM bingkai media massa, tuntutan dari pelaku aksi massa sering kali luput dari substansi. Alih-alih menyuarakan gagasan aksi, pekerja pers dinilai lebih banyak condong remah-remah dari demonstrasi. Ambil contoh, framing media massa terhadap aksi yang sering kali bikin macet jalan, menebar sampah di mana-mana, atau berujung anarkis.
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Banjarmasin membahas masalah ini secara khusus, Selasa (25/9) di Kantor Jejakrekam.com. Tajuk diskusi diambil lantaran belakangan waktu, aksi massa tengah gandrung dilakukan kelompok-kelompok mahasiswa.
Badan Pekerja Penelitian dan Pengembangan (Litbang) PPMI DK Banjarmasin, Siti Nurdianti memimpin sekaligus menjadi pemantik diskusi. Menurut Dian, ada dua faktor mengapa antara peserta aksi dan para jurnalis seringkali tak sinkron menyampaikan substansi aksi.  “Pertama, ketidakmampuan pekerja pers dalam menyajikan hasil reportasenya,” ujarnya.

Artinya, pekerja pers lebih banyak terkungkung tekanan kerja. Tanpa menyempatkan diri untuk terus mengembangkan kemampuan jurnalistik dalam menyajikan sebuah reportase yang bermutu.

“Akhirnya, pemberitaan bisa terputus pada satu narasumber saja. Tanpa mengembangkan lebih lanjut. Karena mereka tak memahami tuntutan aksi,” kata Dian.
Faktor lain, tidak sesuainya pemberitaan media dengan aksi massa juga dinilai terjadi karena politik redaksional. Ideologi perusahaan media bisa jadi mempengaruhi bingkai sebuah pemberitaan.

“Ini sedikit banyak terjadi karena kedekatan petinggi media massa mempunyai kedekatan dengan sasaran atau target para demonstran,” ujarnya.

Salah satu peserta diskusi datang dari aktivis Lingkar Studi Ilmu Sosial Kemasyarakatan (LSISK), Rizky Putra. Ia mencurahkan segenap kekecewaan atas pemberitaan yang dilakukan oleh mayoritas media massa di Banjarmasin terkait aksi demonstrasi yang baru-baru ini dilaksanakan oleh Aliansi Mahasiswa Kalsel. Sayang, beberapa media yang mewawancarai mereka justru khilaf menyampaikan maksudnya.

Peserta diskusi lain, Marsinah Dedhe menjelaskan secara konseptual, bagaimana media mainstream selama ini tidak berdiri sendiri. Ia hidup dan menyokong system ekonomi politik yang sedang berlaku. Seperti beo. Media akan selalu berdekatan dengan penguasa. Situasi itu pada gilirannya akan berpengaruh pula pada politik redaksinya. Berita-berita yang disajikannya tak lagi punya perspektif kerakyatan.

Di sini, PPMI hendak meneguhkan kembali posisinya sebagai wadah berjejaring Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Sebagai media alternatif, sudah sepatutnya LPM menjaga keberimbangan dalam menyampaikan fakta.

Di akhirdiskusi ini, ada duarencana yang hendak ditindak lanjuti:

  1. Membuat pernyataan sikap yang ditujukan kepada media dan masyarakat umum bahwa PPMI menolak konstruksi pemberitaan yang mengabaikan substansi gerakan.
  2. Membangun gerakan bersama yang positif sesuai dengan tupoksi tiap Lembaga dalam mengawal isu-isu kerakyatan.